http://www.ministrywatch.com/App_Themes/Gifs/star.gif

Pages

Subscribe Twitter Facebook

Rabu, 04 April 2012

Bersyukur Lewat Danish

Aku mengerang pelan. Bibirku manyun. Mukaku jadi jelek sekali. Ditambah lagi dengan jerawat yang memenuhi mukaku. Tubuh gemukku juga membuatku cepat lelah. Dan aku benar-benar malu dibuatnya. Seringkali aku merasa iri ketika aku melihat seorang wanita yang aduhai tubuhnya. Yang kulit wajahnya pun sehalus porselin. Kita bisa bermain perosotan di pipinya saking licinnya. Mereka dengan percaya diri berlenggak lenggok di mall, jalan, sekolah, kampus, pokoknya di tempat umum mana saja. Sedangkan aku?
“Kamu siapa sih? Kok aku nggak kenal?” tanyaku pada refleksiku di cermin. Menatap wajahku dalam-dalam. Menggembungkan sebelah pipiku dan meninggalkan pertanyaan pada cermin.

Aku melemparkan diri ke atas kasur, terpantul-pantul sejenak sebelum berhenti. Menatap langit-langit kamar dan mendesah keras. Aku merasa frustasi dengan diriku. Aku berbeda dengan Kak Feni. Kakak begitu cantik dan menjadi rebutan laki-laki manapun. Aku? Mungkin aku harus menubruk seorang laki-laki, mengikatnya di bawah pohon dan mengancam akan menembak tepat di pelipisnya untuk mendapatkan SEORANG PACAR.
Ya Allah, mengapa Engkau menciptakan aku seperti ini? Gendut sekaligus mempunyai ‘pabrik’ jerawat. Bolehkah aku menyesal telah dilahirkan?

***

Sunday morning. Time to leha-leha.
“GENDUUUUT!”
Ugh, aku benci sekali kalau mendengar teriakan itu. Apa tidak ada sebutan lain. Mama selalu saja begitu kalau memanggilku. Masih mending kalau Mama memanggilku seperti itu sambil melambaikan uang seratus ribu. Tapi aku bisa menebaknya dengan mudah, Mama pasti akan menyuruhku mencuci piring.
“YA, MAAA!” Aku berseru. Beranjak dari sofa.
“Naaah, gitu dong. Dipanggil itu harus sigap begitu!” ujar Mama ketika aku sudah berdiri malas di sampingnya. Mama sedang sibuk menggoreng kerupuk.
“Tapi Mama jangan panggil Vanya dengan Gendut dong!” protesku.
Mama tertawa mendengar protesku. Ia tidak menjawab, hanya tertawa saja dan hal itu membuatku malas untuk membantunya mencuci piring. Aku berjalan mundur beberapa langkah dan...
“Eh, mau kemana?” Mama menatapku dengan mata geli. “Ya sudah, anak Mama yang cantik, bantuin itu dong!” Mama mengedikkan dagunya ke arah tumpukan piring kotor. “Brownis deh!” imbuh Mama cepat.
Aha! Bola mataku langsung membesar mendengar kata brownis. Kenapa Mama pintar sekali menyogokku? batinku.
“Ma, kenapa sih, aku beda banget kalau dibandingin dengan Kak Feni?”
“Aduh, Vanya sayang. Ini pertanyaan yang ke... seribu lho!” Mama menatapku cemas. “Jangan bilang begitu, tidak ada yang berbeda di sini!”
“Jelas ada yang beda dong, Ma. Kak Feni cantik, langsing, nggak jerawatan kayak aku!” Bibirku maju 5 centi. Tanpa sadar aku menggosok gelas dengan kekuatan penuh.
“Vanya, Allah itu tidak pernah bersikap tidak adil kepada umat-Nya!” Mama selesai menggoreng kerupuk dan mulai mendekatiku. Membelai punggungku pelan, tapi aku tetap menggosok-gosok kali ini piring dengan sebal.
“Tapi buktinya nyata, Ma. Mama liat deh!” Aku menoleh ke arah Mama. Sengaja begitu agar Mama bisa melihat dengan jelas wajahku yang penuh dengan benjolan-benjolan kecil di sana sini. Jerawat dan itu sakit sekali.
“Kamu punya teman nggak?” tanya Mama. Aku langsung mengangguk. Dita, Nisa, David, Vebi, dan yang lain. Asiiik... banyak juga temanku ternyata.
“Ada yang pernah protes dengan jerawatmu? Atau badan gendutmu?” Mama menatapku. Kali ini dengan tatapan tajam, tapi ada senyum tersimpul di sudut bibirnya.
Aku menerawang, mencoba mengingat. Aku menggeleng sekali lagi.
“Naah, sudah jelas kan sekarang. Jerawatmu, badan gendutmu, sama sekali bukan masalah terbesar. Suatu saat, entah kapan, kamu akan mensyukurinya!”
“Kapan, Ma?”
“Tunggu saja, Sayang, waktu itu pasti akan datang!” Mama membelai punggungku sekali lagi sebelum beranjak pergi meninggalkanku. Kegiatanku terhenti sesaat. Menghela napas sejenak dan berbisik, “Apa mungkin?”

***

Sorenya, aku berjalan-jalan ke taman. Menyusuri jalan setapak dengan tangan menggenggam Chitato. Aku ditemani Craig David. Maksudku, aku mendengar lagunya mengalun dari headset yang menyumpal telingaku. Aku bersenandung kecil dan membawa kakiku ke kursi taman yang indah.
Ramai sekali. Aku tersenyum singkat ketika seorang tetanggaku melintas di depanku bersama anaknya yang berumur 5 tahun. Memang sih, di depanku adalah taman bermain. Ada ayunan, perosotan dan permainan lain yang aku yakin bakalan langsung rusak jika aku memakainya.
Aku melepas headset dan memasukkan potongan Chitato ke dalam mulutku. Pekikan-pekikan kecil memanjakan telingaku. Melihat tawa renyah mereka, otomatis aku ikut tersenyum. Dan aku melihatnya. Seketika jantungku berdesir, mulutku ternganga, dan... dan... aku.... Apa? Bagaimana bisa?
Mataku terpaku menatapnya. Sosok kecilnya, kepala pelontosnya, kulit keriputnya, mata besarnya, tawa lebarnya yang membuatku yakin jika hanya ada satu gigi di bagian depannya, dan tubuh yang hanya berbalut kulit. Dia begitu riang dan keriangannya itu menyentakku ke alam sadar. Aku berdiri, dan mana Chitatoku? Apa? Aku menjatuhkannya dan isinya berserakan. Kapan aku menjatuhkannya? Bahkan aku tidak sadar. Aku mulai berjalan perlahan. Semakin dekat.... dekat dan aku berdiri di sampingnya. Melihatnya dengan jelas.
“Ada apa?” Aku geragapan. Ia menyapaku, menanyaiku. Apa yang harus aku katakan?
“Oh... sedang apa?” Aku mencoba tersenyum. Kaku sekali. Tersenyum dan ingin menangis, sungguh suatu keadaan yang tidak pernah aku bayangkan. Susah sekali.
“Main!” Jawabnya singkat. Kemudian ia pergi bermain perosotan. Aku masih menatapnya.
“Namanya Danish! Progeria!” Aku tersentak dan menoleh cepat. Seorang ibu muda berdiri di sampingku. Ia tersenyum ketika menumpukan pandangannya ke arah anak itu.
Aku tahu pasti apa itu Progeria.
“Anda... ibunya?” tanyaku ragu. Aku menghembuskan napas lega ketika melihatnya mengangguk. Aku mencoba menyapu wajahnya, mencari adakah kesedihan di matanya. Tapi, aku sama sekali tidak menemukan yang namanya kesedihan ataupun kekecewaan. Aku hanya menemukan sebuah kebahagiaan, ketulusan seorang ibu. Dan ingin sekali aku memeluknya.
“Berapa umurnya?”
“Tujuh tahun! Danish pernah bertanya, kenapa dia berbeda, saya hanya menjawab karena dia istimewa. Karena Allah menyayanginya. Dan sejak itu, Danish tidak pernah lagi bertanya. Danish begitu bangga dengan keadaannya yang seperti itu. Dan saya bangga sekali!”
Detik itu juga aku langsung memeluk Ibu Danish. Tersedu di bahunya. Aku tidak peduli ketika semua orang memandangku. Aku merasakan belaian lembut di bahuku dan hal itu semakin membuatku terisak.
Danish, anak kecil yang berumur tujuh tahun, namun tubuh dan wajahnya seperti orang yang berumur 40 tahun. Danish bisa bangga dengan dirinya yang seperti itu. Mengapa aku begitu picik? Seharusnya aku merasa malu dengan diriku sendiri. Aku sehat walaupun aku gendut. Aku mempunyai banyak teman walaupun aku jerawatan. Aku berusaha menempatkan diriku ke dalam posisi Danish. Mungkin aku sudah bunuh diri kalau itu terjadi padaku. Aku tahu, Allah tidak akan memberi cobaan di luar kemampuan umat-Nya. Allah tahu pasti, bahwa Danish adalah sosok yang kuat. Bahwa Ibu Danish adalah sosok yang sabar. Mamaku memang sabar, tapi mungkin tidak akan sesabar Ibu Danish jika Mama yang mengalaminya. Apalagi aku. Aku benar-benar malu dengan semuanya.
Aku berjalan pulang. Lunglai sekali. Tapi di dalam hatiku seperti ada lampu 1000 watt, terang sekali. Rasa syukurku melebihi apapun juga. Apakah ini yang dimaksud Mama dengan “Saat bersyukurku”. Terima kasih Danish. Dan maafkan hamba ya Allah, telah meragukan-Mu.

Cerita di atas hanyalah sebuah fiktif belaka. Ide cerita ini muncul seketika saat saya selesai membaca artikel tentang penyakit Progeria dan dulu saya pernah menonton film India berjudul Paa. 

Sooo... apa yang melekat di diri kalian, syukurilah. Karena itulah yang terbaik.

Ini Ashley, anak yang menderita Progeria. 
 
gambar dari sini

63 comments

4 April 2012 08.56

bagus wury ceritanya :)
ehh aku juga nonton Paa, film yang bagus, berkalikali nonton selalu mewek :P tapi emang bagus banget dan ga bosenin pas nonton :)

4 April 2012 09.35

wow...... apa tadi namanya progeria?

ya benar sekali, Allah tidak melihat bagaimana fisik kita karena itu memang pemberian dari Allah, bisa bahaya nanti kayak Suarez sama Evra.. he he

4 April 2012 10.02

Tak ada yang diciptakan olehNYA dengan sia2, bagus ceritanya Wuri. Bakat juga jadi penulis :)

4 April 2012 10.25

setuju banget wury, kadang kita mengeluh karena hal2 sepele, merasa masalah kita yang paling besar, look around dan kita akan menemukan bahwa banyak sekali yang tidak seberuntung kita dan ada orang yang ingin bertukar tempat dengan kita.. shame on us, thanks ff nya :)

4 April 2012 10.27

Gak suka ih sama ibunya Vanya. Manggil anak dengan sebutan gendut kan gak baik..

4 April 2012 10.46

Gendut, jerawatan, gak punya pacar :(( :(( *eh*
Oooh itu namanya progeria, kasian :|

4 April 2012 10.50

Bersyukur itu indah ya, bisa bikin awet muda juga ^^

4 April 2012 11.05

jadi inget kemarin ini baru nonton film India judulnya Paa, tentang anak penderita progeria. menyentuh filmnya, ibunya begitu perhatian pada anaknya. Wury thanks ya sudah mampir diblog saya

4 April 2012 11.21

mau lagi.. Klik aja jangan malu-malu wah mantab redmore nya ya..

4 April 2012 11.27

Makasih untuk nasihat hari ini Wury
Speechless..

"Rahasia Allah itu jauh lebih indah dibandingkan apa yang kita duga, dan ngga ada yang sia-sia semua yang Dia ciptakan termasuk keterbatasan kita " *ikutan ngasal

4 April 2012 11.30

Baru kali ini aku membaca tulisan di blog dengan mata yg hampir tak berkedip dan napas yang hampir tertahan. Bener2 bagus, Mbak. dipublikasikan aja, Mbak, di media massa atau buku.

4 April 2012 11.37

ikut terharu saat baca cerita ini wury, terimakasih, ceritanya sudah mengingatkan betapa kita harus selalu mensyukuri semua yang sudah di berikan tuhan kepada kita selama ini.

Aku juga baru tahu tentang progeria ini.

4 April 2012 12.04

tersenyum bibirku
membaca ceritamu
karna hatiku lagi gemuk galau …

hehe

4 April 2012 12.18

hikss...cerita yang menyadarkan kita pentingnya untuk bersyukur dalam setiap keadaan :)

progeria, apakah itu?

4 April 2012 12.24

pribadi lepas pribadi umat manusia memiliki kekurangan diantara kelebihan yg dimilikinya begitupun sebaliknya. Itulah Anugerah!
salut dg tulisan Wury, walaupun fiktif tetapi mampu memberikan motivasi agar pembacanya selalu bersyukur atas Anugerah Sang Khalik, apapun itu bentuk dan wujudnya!
kita harus percaya bhw kita diberi hidup bukan untuk menderita, krn Tuhan mempunyai rencana ketika Ia memberikan nafas hidup untuk kita!
Keep Blogging Sobat!..

4 April 2012 12.28

hehehehe...aku merasa lucu banget dengan cerita ini wuri, bikin aku ketawa sendiri, jadinya kyk setengah gila dech aku,,,...!!!!

4 April 2012 13.29

film Paa emang bagus, ga nyangka itu amitabh bachan yg jadi auro. Bapak jd anak, anak jd bapak :D
Vanya ga mau dibilang gendut, diet dong :D

4 April 2012 13.30

Banyak orang yang tidak seberuntung kita dan karena itulah kita patut bersyukur.

4 April 2012 13.45

artikelnya hebat ^_^

4 April 2012 14.12

@Tiesa Makasih, Tis. Sama, aku juga, huhuhu... mewek-mewek nggak jelas deh jadinya pas nonton :)

4 April 2012 14.14

@Mas Huda Eh siapa tuh Suarez sama Evra. haduh2... ketinggalan berita nih, tapi kayaknya aku pernah denger deh, yang kembar itu bukan sih?

4 April 2012 14.15

@Anak Rantau Setuju. Oh ya? Makasiiih lho, mudah-mudahan saja :)

4 April 2012 14.17

Ya Allah Ya Rabb...
iyaaaa :D bersyukur

4 April 2012 14.21

@NF Tak kupungkiri kalau aku pernah ingin menjadi seperti orang lain an aku merasa berdosa sekali.
Sama-sama, ayo, ff-mu kemarin udah bagus lho, terusin lagi :)

4 April 2012 14.22

@Millati Indah Kan panggilan sayang mbak hehe

4 April 2012 14.23

@Tebak Ini Siapa Lhooo, kok mewek? Aku juga gitu lho Un :)), Tos yuk...

4 April 2012 14.24

@Yunda Hamasah Hihihi... bikin awet muda ya? Bersyukur terus ah :D

4 April 2012 14.25

@Lidya - Mama Cal-Vin Kalau aku nontonnya sudah lama Mbak dan sama, menyentuh sekali :)

4 April 2012 14.26

@cik awi Kok malah ngomentarin readmoreku sih? Tapi makasih ya udah berkunjung :D

4 April 2012 14.26

@Uzay ^,^ sama-sama, Zay :)

Waduuh, ngasal aja bagus apalagi serius nih :D

4 April 2012 14.28

@Irham Sya'roni Pengennya sih ngirim-ngirim gitu mas tapi aku masih belum berani. Udah pernah menerima penolakan juga masalahnya huehehehe... Tapi tetep semangat nulis hehe
Terima kasih :)

4 April 2012 14.30

@Mami Zidane Sama-sama Mami. Progeria memang jarang dibahas karena kasus seperti itu jarang sekali terjadi, hanya 1 dari 4-8 juta anak.
Mudah-mudahan kita termasuk orang yang mensyukuri nikmat-Nya, ya Mam :)

4 April 2012 14.30

@anisayu Kalau galaunya gemuk bentuknya kayak apa, Mbak Anis :D

4 April 2012 14.31

@Si Belo Progeria itu penyakit penuaan dini, Nay! jarang sekali memang, kecepatan penuaannya 4 kali lipat, kasihan sekali ya :(

4 April 2012 14.33

@Bung Penho Allah itu menciptakan kita pasti yang terbaik untuk kita. Tidak perlulah menyesal, itu sama saja melawan kepastian, Ya nggak, Bung Penho?? Hehe
Keep Blogging too :)

4 April 2012 14.34

@dedhy irawan Serius? Kamu orang pertama yang merasa LUCU dengan ff-ku ini. Ck ckck, harus aku balas apa? :(

4 April 2012 14.35

@Teguh Budi Hah??? Aku malah nggak tahu lho kalo Auro itu Amitabh Bachan, serius?? Googling ah...

udah diet tapi nggak berhasil huihihi

4 April 2012 14.36

@Ayu Welirang Betul sekali Mbak Ayu :)

4 April 2012 14.36

@connex terima kasih :)

4 April 2012 14.44

dan saya pun bersyukur bisa baca cerita ini sambil minum kopi, wew, boleh dong :p

4 April 2012 14.58

intinya harus bersyukur ye kak, endingnya kesian ngeliat anak yang kena penyakit begono ..

Oh gitu ..
kalo orang ketuaan kan Progeria namanya, kalo gantengan kayak gua nama penyakitnya apaan kak ?? hehe

4 April 2012 15.59

@Wury Saat anak saya belajar berjalan, dia pun merasakan jatuh tersungkur hingga tanggal giginya. aku bilang ke dia, "Gapapa, Sayang. Untuk bisa berjalan lalu berlari, kadang kita harus jatuh terlebih dahulu."

4 April 2012 16.01

menarik sekali dari cerita mu ini dek wury, apapun yg melekat pada diri kita, memang itulah anugrah dr Tuhan yg harus kt sukuri.

4 April 2012 17.45

Ceritannya bagus.
bener tuh, Resep biar bisa bersyukur, (dalam masalah dunia) lihatlah orang yang ada di bawah kita. kalo liat yang diatas, sampai kapanpun kita ngak akan pernah bisa bersyukur. yang ada malah ngresulo, ngrundel, nesu2.. :D

4 April 2012 17.50

Tulisannya Bagus.

Bener tuh, Resep biar bisa bersyukur, kalo masalah dunia lihatlah orang yang ada di bawah kita. sebaliknya kalo kita terus2an liat yang ada di atas kita, yang ada malah ngrundel, merasa tuhan ngak adil. :D

4 April 2012 18.36

waahhh bagussss..... nyimak dulu.

4 April 2012 19.48

keren ceritanya.. ya membuat saya bersyukur untuk hidup.. menikmati yang di miliki

4 April 2012 20.40

Banyak cerpen atau apalah di blog mbak ini! Dan cerita kali ini ampe ane baca berulang2, scrol...scrol... Dan scrol...
Kenapa gak bikin buku aja mbak Wur? ;-)

4 April 2012 20.42

bagus banget cara Wury mengemas cerita ini, walau fiksi, tapi sangat berkesan, sukses menghantarkan pembelajaran akan rasa syukur yang harus dipupuk setiap makhluk Allah yang telah dilekatkan kepadanya setiap kelebihan dan kekurangan....

saya juga baru tahu tentang progreria ini dari sini, trims again Wury.... keep writing yaa....

4 April 2012 21.58

sontaaaaaaakkkkk........

aku baca kata demi kata..
aku terharu bahkan air mata inipun menetes, bukan karena plogeria itu, tapi karena aku ingat akan diriku sendiri.. penyakitan!!

YA ALLAH,, ampunilah aku :(

5 April 2012 05.59

wah saya pernah liat tu filem pa, cuma sebentar, emang bagus ya? soalnya geli juga liatnya. tapi sebentar liat ketauan ibunya sagant tengar. ini tulisanmu sendir ya? bagus, fiktif tapi sudut pandangya bagus, enak ko. terus kan ya, aku pembaca setia ko. heheh.

5 April 2012 13.53

@Stupid monkey Minta kopinya dong Bang :D

5 April 2012 13.55

@EYSurbakti Nama penyakit yang kegantengan itu NARSISRIA :D, priksain sana :D

5 April 2012 13.57

@Irham Sya'roni Benar sekali Mas Irham, sama halnya seperti belajar menulis ya, maksudku menjadi penulis. Penolakan itu hal biasa, dan anggap saja kita baru jatuh :)
Terima kasih :)

5 April 2012 13.58

@Suratman Adi terima Kasih, Mas. Memang, apapun itu, jelek atau kurang sempurna harus tetap bersyukur, yang penting sehatlah :)

5 April 2012 13.59

@Yan Muhtadi Arba Iya, Mas. Jangan pernah lihat ke atas, lihatlah ke bawah. Itu juga kan yang sering kita dengar :)

5 April 2012 13.59

@Echie:-D Silakan :)

5 April 2012 13.59

@caramel Sip, gitu dong :)

5 April 2012 14.01

@eksak Waduh, Sak, bikin buku itu urusan nantilah. Susah soalnya, sementara nge-blog dulu aja. Doain aja ya huehehehe

5 April 2012 14.03

@alaika abdullah terima kasih Mbak Alaika. Saya hanya mencoba menulis berdasar apa yang saya baca Mbak dan mencoba untuk membuat sebuah cerita yang mudah-mudahan bisa berkesan untuk pembaca.

Mbak Alaikan juga, keep writing :)

5 April 2012 14.04

@cah_kesesi_ayutea Memangnya kamu sakit apa cah ayu. Yang penting masih bisa melakukan aktivitas dengan lancar ya :)

Semoga cepat sehat :)

5 April 2012 14.05

@cerita anak kost Terima kasih, Mas.
Iya filmnya memang menyentuh banget, hiks... bikin cengeng deh pokoknya. Cerita ini terinspirasi dari Paa...jadi maklum saja kalau hampir mirip, tapi aku bukan plagiat lhooo :)

11 April 2012 09.46

kunjungan gan .,.
bagi" motivasi
Saat kamu menemui batu sandungan janganlah kamu ptus asa,
karena semua itu pasti akan ada solusinya.,.
si tunggu kunjungan baliknya gan.,

Posting Komentar

 
Powered by Blogger