http://www.ministrywatch.com/App_Themes/Gifs/star.gif

Pages

Subscribe Twitter Facebook

Rabu, 11 April 2012

Belajar di Kantor Imigrasi

Halo semua hahaha
Dateng-dateng ketawa. Gila ah!

Oke deh, jadi hari ini aku mau cerita tentang pengalamanku ketika aku ngurus paspor di kantor imigrasi. Tanya dong kenapa judulnya 'Belajar di Kantor Imigrasi', bukannya kalo belajar itu di sekolah atau di kampus? Ah, itu kan belajar pelajaran macam Matematika, Fisika, Kimia, de el el. Tapi aku di sini akan membahas tentang pelajaran PKn (??), sama aja. Tapi bener kok, belajar tentang kebaikan. Tepatnya kebaikan seseorang. Bukankah kebaikan itu identik dengan pelajaran PKn?

Dan, paspor? Apa aku mau berlibur ke luar negeri? Jawabannya IYA dan TIDAK. IYA, tapi cuma khayalan aja. Berkhayal ke Jepang atau ke korea gitu. Dan TIDAK, aku nggak ke luar negeri, aku hanya dimintain tolong untuk membuatkan paspor bagi keluarga pak bos yang mau umroh, insya allah besok tanggal 20 Mei. Ya sudahlah, buat pengalaman, siapa tahu besok aku bikin paspor untuk diri sendiri dan nggak perlu ribet tanya ini dan itu. Kan, aku udah punya pengalaman... bikin paspor ^_^ Beruntunglah kalian yang mempunyai rejeki lebih sehingga bisa pergi kemana suka. Aku? sementara jadi yang dimintain tolong dulu deh. Sebagai sekretaris yang BAIK. Tunggu... BAIK? Apa aku cukup baik ketika ada uang lelah dan transport yang aku terima dan aku masukin kantong ajaibku?


Jadi pelajaran apa yang aku petik? Simak ya, temans.



Aku sedang duduk manis ketika antri di loket 1. Suasana kantor imigrasi ramaaaai sekali. Aku melihat sekeliling sambil menebak-nebak, mereka pada mau kemana? Aku memang kelihatan hanya duduk manis sekali dan diam, tapi tidak dengan otakku. Aku melakukan dialog dengan diri sendiri, "Ibu gaul itu mau kemana?", "Bapak-bapak yang pake celana congklang dan berjenggot lebat itu mau kemana?", "Apa si bule itu mau pulang kampung?" atau "Mbak-mbak di sebelahku yang berpakaian biasa ini mau kemana?". Aku menyimpulkan bahwa Ibu gaul itu hanya mau berlibur atau ada urusan bisnis di luar negeri. Tidak mungkin kan dengan dandangan yang luar biasa heboh dan wajah yang bersih bersinar begitu mau jadi TKI. Dan bapak-bapak yang berjenggot itu sepertinya bukan bentuk seseorang yang akan berlibur, beliau mungkin mau naik haji atau umroh. Si bule, jelas sekali bule itu mau pulang kampung. Dan mbak-mbak yang berpakaian biasa di sebelahku ini jelas juga bukan model orang yang ingin berlibur. Banyak sekali sebenarnya dialog yang aku lakukan seorang diri. Tapi cukup ya, itu aja yang aku ceritakan. Bingung sendiri nanti kalau semua aku ocehkan. Soalnya ada yang tidak berhubungan sama sekali. Contohnya : "Aduh, tadi pintu kamarku udah aku tutup belum, ya?"


Setelah capek berdiam diri dan bergumam dalam hati, aku memutuskan untuk mengajak ngobrol mbak-mbak yang berpakaian biasa di sebelahku. 


"Mau kemana, Mbak?" tanyaku basa-basi dan benar-benar basi.
"Malaysia," jawabnya singkat. Dia tersenyum, tapi aku kok merasa ada yang aneh ya dengan senyumnya itu.
"Ngapain, Mbak, kerja atau...," aku sengaja menggantungkan kalimatku. Karena aku takut kalau pertanyaanku membuatnya merasa gimanaaa gitu. Jadi aku memutuskan membuat pilihan, kerja atau.... Biar dia yang melanjutkan sendiri.
Coba bayangin kalo aku langsung nge-judge. "KERJA YA!" tapi si mbak malah jawab, "Nggak dong, aku mau kuliah sambil liburan!". Mati kutu deh.


Tapi ternyata si mbak memang benar mau kerja. Atau istilahnya itu jadi TKI di sana. Aku harus jawab apalagi coba. Jadi aku hanya senyum dan melanjutkan, "Kenapa nggak kerja di sini aja mbak, yang deket-deket!"


"Kahanan, Mbak." Maksudnya, keadaan yang memaksanya untuk merantau ke negeri seberang demi sesuap nasi. Terus si mbak, cerita panjaaaaang banget, padahal aku nggak nanya lho. Jadi si mbak itu punya dua anak yang masih kecil, paling besar baru kelas 2 SD dan kecil TK. Belum lagi orang tuanya yang sudah tua yang menjadi tanggungannya juga Jadi untuk menghidupi keluarga kecilnya, mau tidak mau ia harus bekerja. Hanya berbekal ijazah SMA dan umur yang sudah hampir 30 tahun, katanya susah begitu cari kerja yang layak di sini. Kalau mau usaha kan butuh modal besar juga. Aku hanya bisa mendengarkan dan nggak berkomentar apapun. Karena jika kalian dalam keadaaan yang sama sepertiku, bakalan nggak enak juga. Lebih-lebih aku bukan tipe penasihat ulung. Lagian aku sepintas melihat, dengan cara dia curhat nggak ada titik komanya, curhat tentang suaminya yang pergi nggak pulang-pulang yang ternyata udah kawin lagi sama daun muda, dia model orang yang nggak suka dikasihani. Tujuan dia curhat mungkin hanya untuk berbagi saja. Dan aku melakukannya, mendengarkan maksudku. Karena tidak semua orang itu suka dengan kata-kata penghiburan.


Jadi ketika dia selesai cerita, aku hanya bisa mengucapkan, "Semoga semua lancar ya, Mbak!". Aku hanya bisa memberikan telingaku, senyumku, dan sedikit kata itu. Dan aku bisa melihat si mbak itu lebih enteng.
"Makasih, ya, Mbak!" ujarnya. Setelah beberapa saat, kemudian dia pergi, soalnya nomor antriannya dipanggil. 


Melihatnya saja aku trenyuh. Bebannya memang sangat berat, tidak ada suami yang mendukung. Ia rela pergi jauh demi keluarga, toh belum tentu juga kan di Malaysia nanti dia bahagia dan betah. Aku bertanya-tanya, apa memang di Jogja yang luas ini tidak ada pekerjaan yang layak? Eh, banyak ding, tapi aku berasumsi bahwa LAYAK = BERSYARAT. S1 lah, pengalamanlah, penampilan menariklah dan masih banyak lagi. 

Aku mencoba memposisikan diriku berada di posisinya saat itu. Ini adalah suatu kebiasaanku ketika berada dalam suatu keadaan yang sekiranya agak berat. Membuat seolah-olah aku adalah dia. Selain untuk menghindari sifat mengejek, merendahkan, dan tidak berterima kasih, menurutku bisa juga untuk bersyukur sewajarnya. Bagaimana jika aku begitu? Apa yang harus aku lakukan? Aku bersyukur, hidupku tidak seberat dia. Tapi jangan sampai terlena saja. Oh iya, aku lupa nggak nanya namanya.


Ada satu lagi. Aku mendapatkan nomor antrian A 59 di loket 1. Padahal saat itu, antrian baru sampai di nomor A 38. Masih harus bersabar lama. Wajah-wajah ngantuk, bosan, orang guap di pojok sana sini. Aku juga udah nguap beberapa kali. 

Tempat duduk si mbak tadi kosong beberapa saat sebelum ditempati seorang laki-laki. 
"Permisi!" katanya meminta ijin duduk di sebelahku. Mungkin dia capek banget, soalnya aku melihat mas-mas itu berdiri sejak tadi, bahkan sebelum aku masuk ruangan, mas-mas itu sudah berdiri di dekat meja yang khusus untuk mengisi formulir. Aku ngobrol dengan mbak tadi, si mas itu juga masih berdiri di sana dengan posisi berdiri yang berbeda-beda. Kaki kanan menumpu badan dan kaki kiri disilangkan. Atau sebaiknya, aduh susah deh menuangkan ke dalam kata-kata posisi mas-mas itu. Hehe.

Ketika melihat ada kursi kosong mungkin dia merasa penderitaannya berakhir. FYI, dia manis banget, bikin aku grogi setengah mampus. Aku agak canggung untuk mengobrol dengannya. Jadi aku diam saja, sambil kembali bergumam-gumam sendiri dalam hati. Tapi tiba-tiba...


"Antrian nomor berapa, Mbak?" Mas-mas itu mengagetkanku yang lagi asik berkhayal.
"Eh... !" aku kaget. "Em... ini!" aku memperlihatkan kertas kecil kucel di tanganku. Kucel soalnya aku remas-remas tanpa sadar dari tadi mengobrol sama si Mbak.
Dia kemudian memperlihatkan nomor antriannya. A 53. Ugh, dia lebih dulu dari aku, batinku.
Dan... wow... apa yang dia lakukan? Aku berasa ingin membelai wajah manisnya detik itu juga. DIA MENUKARKAN NOMOR ANTRIANNYA DENGAN NOMORKU. Tapi aku agak was-was juga. Ditengah suasana membosankan, ketika orang-orang ingin dilayani lebih dulu, kok ada orang yang malah menukarkan nomor antriannya kepada orang lain yang notabene lebih lama pelayanannya. Maksudku, dia bakalan duduk di kantor imigrasi ini lebih lama. Padahal yang lainnya ingin sekali cepat-cepat dan menghirup udara segar di luar sana. Apa modusnya? Penipuan model baru? Tapi ketakutanku aku buang. Aku ingin bertanya lebih dulu sama Mas Aneh di sebelahku ini. Kenapa A 59-ku ditukar A 53-nya?. Selisih 6 nomor itu waktu yang lama lho. Paling cepet 30 menit. Itupun kalau lancar. Menurutku 30 menit itu lama sih.
Aku tanya, "Kenapa, Mas?"
Dia hanya tersenyum, "Nggak apa-apa. Perempuan lebih dulu saja!"
Sekali lagi W O W. Aku bertanya-tanya, apakah ini imbalan dari Allah karena aku sudah bersedia mendengarkan keluh kesah si Mbak tadi padahal aku juga belum mengenalnya secara resmi? Atau memang Mas Aneh di sebelahku ini terlampau baik sekali? Entahlah...
Seribu satu lho orang kayak gitu. Dan masuk dalam daftar calon suami. Eh, apa??? Jangan baca kalimat bermutu rendah barusan. 


Jadi, kesimpulannya apa ya? Berbuatlah baiklah kepada sesama (kesimpulan standar).


Salam
Wury ^_^

 

34 comments

11 April 2012 12.35

Wakakaka....setidaknya bisalah nangkring melototin wajahnya yang manis kan mbak?

Klo ada cowok yang baik begitu pasti serasa jadi putri di negeri dongeng yak?Hihihi...

11 April 2012 13.21

Wah,itu cowok baik sekali ya, wajahnya manis lagi, siapa namanya tuh wury, hehe

11 April 2012 13.35

lebih enak daftar online dulu wury, baru deh pergi ke imigrasi menghemat waktu

11 April 2012 14.17

Ada dua kalimat inti yg bisa saya simpulkan:
1. "Dan... wow... apa yang dia lakukan? Aku berasa ingin membelai wajah manisnya detik itu juga."

2. "Seribu satu lho orang kayak gitu. Dan masuk dalam daftar calon suami."

Hehehe... **kabuurr

11 April 2012 14.18

1. Semoga umrohnya pak bos lancar. titip doanya saya juga pengen umroh hehe..
2. Amiiin semoga ini pengalaman berlanjut jadi pengalaman untuk sendiri ngurus paspornya
3. WOW !! *jangan tanya kenapa ^.^
4. aktivin versi mobilenya dong..

11 April 2012 14.28

waaah cwok nya baik banget ya...
dan mungkin itu blsn dr kebaikan yang wuri perbuat kpd org lain..

11 April 2012 14.33

Pakai No. ah seperti yang lain :P

1. kirain beneran mo ke LN, baru mau titip oleh2 hehe
2. bukannya bikin passport bisa lewat internet yak? kalau ga salah hehe
3. kasian ya, demi keluarga ia rela 'menggadaikan' dirinya di negeri orang lain, kita doakan saja ia baik2 saja disana
4. yang masalah tiny box - short url udah aku kasih penjelasan tambahan ;)

11 April 2012 14.43

haduh mau komen apa aku yak? bingung udah pada komen diatas....

oh iya, mana pelajaran bikin paspornya ya?

11 April 2012 14.46

wah..bnyk kle pljaran nya..mata saya jdi perih..hahaha
peace..

11 April 2012 15.24

Wah... wuri gak nyadar yah??
barusan diketemukan dengan calon.... apa ya...?? hahahhaha....

11 April 2012 15.41

Jadi cowok yang menomor satukan cewek itu calon suami yang baik ya? wkwkwkwk ini ke kantor imigrasi mana? kebetulan istri saya kerja nya di imigrasi :D

11 April 2012 16.14

bhaaaaahahah, dateng langsung ketawa. akur, mbak! kalo baik ma orang pasti orang baik juga ama kita..

11 April 2012 16.58

hehehehe gtu toh ngurus nya, eeh disinijuga ada lho kantor urusan imigrasi, pingin buat tapi mau bikin jalan2 ke luar negeri mana yaa....

sapa tau ada yang ngasih jalan2 gratis ke paris :D *ngarep sambil berdoa* :D

11 April 2012 17.12

wah si cowo itu mantap ya, klo orng bule sering kaya gitu. tu. ladies first kayanya...
ud selesai dong dapet pengalamanya, jadi sekalian kenalan ga?

11 April 2012 18.03

aku pengen kenalan sama tuh cowo deh..hahahahaha

11 April 2012 18.34

mantap gan makasih...

11 April 2012 19.06

dari tadi perasaan gue gak enak! seperti ada sesuatu yg bikin gue merasa aneh, eehhh.. pas waktu link ke blog Wury, ternyata mbak Wury sedang menceritakan aku! :D

11 April 2012 19.19

suka blognya.. :)

11 April 2012 21.29

Apikan banget masnya, hihihi xD
Kok bikin paspor ga langsung orangnya sih mbak... @_@

11 April 2012 22.50

lho, cerita tentang proses pembuatan paspor nya mana ? kok gak ada seeehhh ... #lembar balok

12 April 2012 00.09

iy...brbuat baik itu harus,
tapi yg lbh hrus lg..dapet nope mas² it gak wuryy???
#plak

12 April 2012 00.15

wah, curiga itu aku..soalnya aku ngasih nomor kecewe disebelahku waktu ngurus paspor, makasih udah memnasukkan aku kriteria calon suami...haha..*ngarang. dot.com

12 April 2012 08.27

ada rasa haru, bahagia baca ini pokoknye campur2 dahhh :D

titip doa ya yang jalan umroh, gue juga pengen kesono ^^

12 April 2012 09.05

kenalin dong say... *colek2 wury*.. hihihi..
eh tuh cowok namanya sapa? hahaha..

12 April 2012 12.24

wahahaha , mujur nasib lo kak :D

ngomong soal TKI yang berangkat itu aku kasian dan kesel juga kak ..
Negara kadang gak bertanggung jawab kalo mereka ada kenapa-napa dluar negeri, padahal penghasilannya juga punya andil buat ningkatin devisa negara :(

12 April 2012 21.22

Kunjungan malam mbak
waaaahhhh
jangan- jangan masnya tersepona, eh terpesona sama mbak
hehehe
langsung minta nomor HP seharusnya mbak

13 April 2012 08.32

Nice post, ...jadi inget leluconnya Mr. Been

13 April 2012 10.33

seneng banget nih, lihat ketawamu yang renyah itu...
hehehehhee..
kunjungan pagii sayang...

13 April 2012 10.49

dapet nomer HP nya si cwo itu ga?he.... posting menarik tuk disimak.

13 April 2012 12.59

kunjungannn...kunjungan....
lam kenal ya,,,,
postingn ny lucu tuh..
hehee

13 April 2012 20.58

seru juga, jalan2 ke kantor imigrasi..hehehe...

15 April 2012 09.21

pas ikin pasport mmg byk ketemu org2 yg mw brgkt jd TKI. oia, lgsg terpesona dengan sikap gentle si cowok...1000:1 beneran deh. apalagi klo naik bis...huhgg malah pura2 tdr meski ada org tua yg gk dpt duduk. Eh,tp prnh ding saya di kasih tempat duduk oleh cowok manis juga...hahahaaa

16 April 2012 20.38

oh ya wury, dapat award dariku nih :) dan yuk lihat pengumuman pemenang giveaway the fairy and me
http://www.nurmayantizain.com/2012/04/pemenang-giveaway.html
thank you ^^

17 April 2012 06.38

@Nurmayanti Zainou mba wuri dapet ternyata ya.. mantap, satu lagi yang aku kenal kalau begitu. selamat ya mba.

and selamat juga kenalannya, ups, paling tidak dapat ketmu cowo yang sopan di bandara.

Posting Komentar

 
Powered by Blogger