Tokoh : Lula dan Langit (Novel Shit Happens), Bella (Tokoh Tambahan)
Ketika aku mengintipnya tadi pagi, aku melihat wajahnya cerah. Seperti
biasa. Tapi mengapa sekarang aku melihatnya meringkuk di UKS? Apakah ia sakit?
Ah, kenapa juga aku harus khawatir. Toh, ia sudah mencampakanku persis seperti sampah.
“Lula, ngapain kamu di sini?” Aku menoleh cepat, mendapati Bella sedang
mengamatiku. Ugh, selalu begitu. Bella tidak boleh tahu apa yang aku lakukan di
sini. Aku menggeleng pelan dan mulai berjalan menjauhi ambang pintu UKS
tempatku berdiri canggung.
“Lula!” Bella menarik lengan seragamku. “Kamu kenapa?”
“Aku nggak apa-apa, Bel,” elakku. Bella masih saja mencoba merecokiku
dengan pertanyaannya.
“Aku tahu, pasti gara-gara Langit!” tuduhnya. “Langit udah mencampakamu,
La. Ingat! Lupain aja deh!”
Aku mengerang dalam hati. Memangnya kenapa kalau gara-gara Langit? Apa
pedulinya? Bella yang membuat Langit mencampakanku. Jangan dikira aku tidak
tahu. Oke, aku memang tidak tahu persis apa yang dilakukannya. Tapi firasatku
mengatakan ia mengkhianatiku. Aku merasa sakit hati walaupun belum jelas apa
yang terjadi padaku, tapi aku tidak mau mengatakannya. Tapi mengapa Bella
sepertinya tidak peka dengan sikap-sikap ketusku? Apakah hatinya terbuat dari
batu? Oh, aku tahu, dia kan penyihir.