http://www.ministrywatch.com/App_Themes/Gifs/star.gif

Pages

Subscribe Twitter Facebook

Selasa, 12 Juni 2012

Senyum Lula

Tokoh : Lula dan Langit (Novel Shit Happens), Bella (Tokoh Tambahan)




Ketika aku mengintipnya tadi pagi, aku melihat wajahnya cerah. Seperti biasa. Tapi mengapa sekarang aku melihatnya meringkuk di UKS? Apakah ia sakit? Ah, kenapa juga aku harus khawatir. Toh, ia sudah mencampakanku persis seperti sampah.

“Lula, ngapain kamu di sini?” Aku menoleh cepat, mendapati Bella sedang mengamatiku. Ugh, selalu begitu. Bella tidak boleh tahu apa yang aku lakukan di sini. Aku menggeleng pelan dan mulai berjalan menjauhi ambang pintu UKS tempatku berdiri canggung.

“Lula!” Bella menarik lengan seragamku. “Kamu kenapa?”

“Aku nggak apa-apa, Bel,” elakku. Bella masih saja mencoba merecokiku dengan pertanyaannya.

“Aku tahu, pasti gara-gara Langit!” tuduhnya. “Langit udah mencampakamu, La. Ingat! Lupain aja deh!”

Aku mengerang dalam hati. Memangnya kenapa kalau gara-gara Langit? Apa pedulinya? Bella yang membuat Langit mencampakanku. Jangan dikira aku tidak tahu. Oke, aku memang tidak tahu persis apa yang dilakukannya. Tapi firasatku mengatakan ia mengkhianatiku. Aku merasa sakit hati walaupun belum jelas apa yang terjadi padaku, tapi aku tidak mau mengatakannya. Tapi mengapa Bella sepertinya tidak peka dengan sikap-sikap ketusku? Apakah hatinya terbuat dari batu?  Oh, aku tahu, dia kan penyihir.


***

“Lula, nanti sore berangkat ekstra, kan?” Langit menepuk bahuku ketika aku sedang membereskan buku Bahasa Indonesiaku.

“Emm... jemput!” Aku nyengir. Rasanya seperti ada aliran listrik di dalam tubuhku ketika melihatnya mengangguk dan tersenyum. Lesung pipinya membuatku terbuai. Ah, andai saja... Oke, cukup, lesung pipinya membuatku mabuk dan aku berharap Langit beranjak pergi dari hadapanku sebelum aku jatuh pingsan.

“Aku duluan, ya!” ujarnya seraya mengedipkan sebelah matanya. Uft, finally ia pergi juga. Kalau aku pingsan, ia harus memberiku napas buatan. Woaa, pikiran macam apa ini?

“Kamu jadian ya sama Langit?” Tiba-tiba saja Bella sudah berdiri di sampingku. Berkacak pinggang. Temanku satu itu selalu saja ikut campur segala urusanku. Terutama jika menyangkut masalah Langit. Memangnya dia neneknya?

“Nggak... eh...” aku berpikir sejenak, “... belum. Sebentar lagi!” Sahutku. Aku mencoba membuat suaraku terdengar ketus. Kemudian aku melihatnya berderap meninggalkanku. Yah, mau apa lagi, aku hanya mengangkat bahuku sekilas.

Sore harinya aku berjalan mondar-mandir di teras rumah. Tumben sekali Langit belum datang menjemputku. Sudah pukul 3 kurang 10 menit. Biasanya jam segini aku dan Langit sudah berboncengan dengan motor bututnya. Menerobos lampu merah dan tertawa riang ketika peluit pak polisi menjerit.

Oke, 10 menit lagi, Lang, kalau kamu belum menjemputku, aku berangkat sendiri. Tapi bagaimana jika nanti aku pergi, Langit malah datang? Aku cemas, tapi aku tidak berpikir macam-macam. Sebaiknya aku bersenandung saja, tapi lama kelamaan senandung kecilku berubah menjadi umpatan-umpatan. Sial, aku mendelik ketika jam tanganku menunjukkan pukul 3 lebih 14 menit. Cepat sekali. Tanpa pikir panjang, aku menyambar tas serempangku di kursi teras dan mulai berlari, berlari. Berlari sambil menahan sesak dada ternyata jauh lebih sakit ketimbang ketika jarimu tergores pisau dapur.

Sepertinya belum cukup siksa menderaku. Langkahku mendadak lunglai. Langit? Bukankah itu Langit yang sedang duduk berdua di bangku aula? Kenapa Langit bersama Bella? Aku menyeret langkahku mendekati mereka. Tapi apa yang kudapat? Langit memang menatapku, tapi bukan dengan tatapan teduh seperti biasa. Ia seperti naga, tatapannya panas. Dan entah mengapa aku ingin meledak detik ini juga ketika Langit membuang mukanya dan beranjak pergi. Bella menatapku prihatin dan mendadak firasatku mengisyaratkan untuk memusuhinya.

Apa yang terjadi? Aku tidak mau hanya berdiam diri saja. Jadi, aku mengenyahkan sejenak rasa maluku. “LANGIT!” Aku berderap cepat menyusul Langit. “Lang, please... kamu kenapa?”

Langit hanya menoleh sekilas. Langkahnya semakin lebar dan cepat. Aku tahu aku tidak sanggup lagi menyusulnya. Aku berhenti, napasku memburu, aku tahu tatapan-tatapan orang yang berlalu lalang di koridor menusukku. Tapi apa peduliku? Aku tidak yakin aku menangis, tapi aku yakin ada air mata mengalir lembut melewati pipiku.

***

Sudah seminggu ini pikiranku berkecamuk. Langit menghindariku. Hanya mengintip dari balik buku, itu yang bisa aku lakukan. Ketika melihatnya meringkuk di UKS, mengapa aku merasa ada sesuatu yang salah. Aku hanya sanggup berdiri canggung di ambang pintu UKS.

“Aku tahu, pasti gara-gara Langit!” tuduhnya. “Langit udah mencampakamu, La. Ingat! Lupain aja deh!” Kata-kata Bella tadi terngiang di kepalaku. Mencampakanku? Mencampakanku? Aku masih tidak percaya.

Pelajaran Kimia, aku ijin ke toilet. Tebak saja aku berbohong. Otakku memerintahkan kakiku menuju UKS. Aku harus berani, hanya dengan cara ini Langit tidak akan menghindariku. Aku membuka pintu UKS, melangkah perlahan, semakin mendekat ke tempat tidur yang menopang tubuh Langit. Aku menghela napas sambil berpikir apa yang akan aku katakan.

“Langit...,” bisikku. Tidak ada sahutan. Aku mendekat, mengulurkan tanganku ragu, tapi toh aku tetap menyentuh bahunya. Aku merasakan sentakan kecil itu. Sepersekian detik kemudian Langit menoleh cepat dan sontak terduduk. Menempelkan punggungnya ke tembok dan menekuk kakinya merapat dadanya. Ia menunduk, aku tahu ia menghindari tatapanku.

Sugesti terselubungku gagal untuk membuatnya mendongak dan menatapku. Aku bertanya-tanya, bagaimana Rommy Rafael bisa melakukan hal itu dengan mudah. Maksudku menghipnotis korbannya untuk melakukan segala hal yang diinginkannya.

Aku merasa tertantang. Tapi apa yang harus aku lakukan? Mendekat, menangkap dagunya dan memaksanya mendongak? Itu, kan, tidak mungkin. Seperti preman saja. Atau aku berteriak saja, tidak mungkin, kan, ia tetap menunduk ketika mendengar teriakan histeris di depannya. Aku yakin sih ia akan menatapku tapi mungkin disertai dengan sikap ngeri dan waspada seakan ada orang gila di depannya. Aku harus jaga image. Masalahnya, bagaimana caranya? Oke, ayo, Sayang, bantu aku berpikir dan jangan terus menerus menyiksaku seperti ini. Tataplah aku. Tatap, Sayang!

Aku menarik napas dan menghembuskannya perlahan. “Lang, apa kamu akan terus membiarkanku terus mengintipmu dari balik buku?” Aku berdiri menjulang di depannya seakan menantang, tapi suaraku lemah dan parau. Aku sadar sekali, nada putus asa sangat kentara di dalam suaraku.

Langit tetap membisu. Daguku mulai bergetar. “Langit...” gumamku.

“Apa kamu juga akan terus membiarkanku terus-menerus menulis namamu di semua bukuku?” Aku terenyak mendengarnya. Apa maksudnya? Suaranya terdengar frustasi. Tapi aku tidak bisa menangkap mimik wajahnya karena ia masih menunduk.

“Maksudmu, Lang?”

“Katakan, La, bahwa kamu tidak pernah berkencan dengan Risma!” Kali ini Langit mendongak. Ia menatapku. Harusnya aku bahagia ia sudi menatapku, tapi kenapa aku merasakan ada petir menyambar-nyambar di siang bolong begini?

Aku berusaha menguasai diri. Aku tidak mengerti apa maksudnya? “Berkencan dengan Risma? Kamu menuduhku?” Aku duduk di sampingnya, menggoncangkan tubuhnya menuntut penjelasan.

“Bella bilang kamu... “

“Cukup, Lang, “potongku cepat. Aku mulai paham sekarang. Firasatku tidak pernah meleset dan aku tidak perlu merasa bersalah jika selama ini aku menuduh Bella adalah dalangnya.

“Jadi...”

“Jadi... kamu bodoh. Bener-bener bodoh!” Aku menatapnya tajam. “Aku normal!”

Hanya dengan kata singkat itu, “Aku normal!”, Langit sudi menggenggam tanganku, tersenyum kepadaku, dan...

“Maukah kamu berkencan dengan laki-laki bodoh sepertiku?”

Aku tersipu, tambah tersipu lagi bahwa aku menangis dan aku sadar ada ingus keluar dari hidungku. Tapi apa peduliku, “Aku mau, Bodoh!”

Siapa bilang kepercayaan itu tidak bisa muncul dengan kata sederhana? Bisa kok. Percaya saja.



N.B : Fun Fiction ini saya ikutsertakan dalam lomba yang diadakan oleh Kak Christian Simamora. Lihat saja di sini. Selamat Ulang Tahun, Kak Christian Simamora :)

66 comments

12 Juni 2012 09.00

endingnya hepi nih wur...suka deh...hehe

12 Juni 2012 09.36

saya dapet masukan baru dari cara menuangkan kalimat di cerpen, dengan baca posting ini.

ini buat kontes ya? ahh, menang lagi pasti!

12 Juni 2012 09.45

dari cerita di atas kok yang teringat-ingat malah UKS yah?
maklum pas esema dulu UKS jadi tempat pelarian pas suntuk sih. Hehehe

12 Juni 2012 09.54

Baiklah aku percaya, bahwa Wury semakin mengasah diri untuk jadi penulis handal :)

12 Juni 2012 10.22

sukses ya buat lombanya

12 Juni 2012 11.39

sukses mbak dengan GA nya...

oyah blgo mbak uda sy follow..,,dtnggu Follbacknya mbak... :)

happy blogging ^_^

12 Juni 2012 12.01

keren ni,... semoga sukses di lombanya ^^
visit back yah :)

12 Juni 2012 12.10

wah akhirnya happy ending...
mengejar cinta yang tulus pasti akan berbuah manis..

12 Juni 2012 12.11

aduuuh menunggu seseorang yang tak kunjung datang memang sesak. apalagi kalau melihat ada kejadian lain secara berbarengan..

yang petir siang bolong hiperbola banget Wury hehe...

Sukses Kontesnya.. asyik yang bentar lagi jadi.com =D

12 Juni 2012 12.48

kunjungan perdana mb..
good luck GAnya yaa.. :)

12 Juni 2012 13.03

ijin menyimak, cuma mo bilang, karena blog ini ciut saya memberi salam dan do'a disini, semoga sehat selalu

12 Juni 2012 13.36

saya perlu belajar banyak untuk menulis sebuah fiksi, salah satunya dari sini.
semoga sukses di kontes, Mbak. Amin,insya Allah.

good luck ya mbak buat GA nya.. :)
sepertinya amsih sedikit 'menggantung', apa masih ada kelanjutannya??

12 Juni 2012 14.17

Cerpenya oke juga nih..butuh berapa lama semedinya ya untuk proses merampungkanya..?

12 Juni 2012 14.28

tersipu malu, hiks... hiks...., tapi berdenyar hati.... hehehe.... semoga sukses lombanya ya, Mbak.

Anonim
12 Juni 2012 14.41

sukaaaa... :D

tampilan blognya pun menarik, smoga menang yaa.. happy birthday too ka Christian Simamora.. GBU

12 Juni 2012 15.11

hihihi sukaa.. semoga menaangg :)

12 Juni 2012 15.14

Blognya dah ku follow#124 minta follbeknya ya.. salam kenal..

12 Juni 2012 19.10

Makin salut banget ama WP. lama-kelamaan elo bisa jadi penulis profesional! sukses deh buat lombanya!

12 Juni 2012 20.34

FFnya enak dibaca Wury, semoga sukses ya

13 Juni 2012 01.37

tulisannya keren uy!!! :)

13 Juni 2012 04.50

okey ... kl gitu, saya mah percaya aja deh :p

13 Juni 2012 06.27

Menang ga yah! Maunya :p

13 Juni 2012 11.46

ini berarti silangit rendah diri ya? ehm, dia malu. gitu yang aku tangkep. bener ga?

13 Juni 2012 13.25

selamat ya,,, ^^ :untukkarakterceritanya

13 Juni 2012 13.28

sukses GAnya wur :)

artikelnya sangat berbobot juga ya, jadi kata demi kata sangat mudah di pahami, semoga sukses teman untuk blognya???

13 Juni 2012 16.22

apa yg membuat org begitu sesak dg urusan orang yg blum tentu jadi miliknya? happy ending, Wur! mantep!

13 Juni 2012 16.25

Aeehh.. Langit bodoh, begitu saja percaya sama Bella, padahal kan Lula jalan ma gueh #lho :p

13 Juni 2012 19.39

Gak heran kalo nanti menang , memang berbakat dalam bidang sastra.
Keep writing, sukses selalu..

14 Juni 2012 07.26

Aku sua nama lulu :)
bagus wur ceritanya ngk monoton, moga menang yah wur :)

14 Juni 2012 11.25

baguuuss.. suka critanya.. sederhana tp menyentuh hati.. hihi

14 Juni 2012 11.40

@Mami Zidane Iya, Mi, kan aku juga lagi hepiiii :D

14 Juni 2012 12.00

@zachflazz Makasih, Mas, tapi nggak pasti menang lagi, kan yang lainnya malah jauh lebih bagus :)

14 Juni 2012 12.00

@deadyrizky Yaaah, sama dong kalo gitu :D

14 Juni 2012 12.01

@Yunda Hamasah Ah, Bunda, jangan berlebih ah hehehe...
Tapi... amiiiin :)

14 Juni 2012 12.01

@ELy Meyer Terima kasih :)

14 Juni 2012 12.01

@Chumhienk™ Okeee, sip, tunggu ya :)

14 Juni 2012 12.19

@athiefblog nener keren nih? :)
MAkasih :)

14 Juni 2012 12.21

@Mbak IisIya, Makasih ya :)

14 Juni 2012 12.21

@Mbak IisIya, Makasih ya :)

14 Juni 2012 12.53

@Uzay yah, kadang hiperbola itu juga dibutuhkan lho, Zay hehehe
Huihihi... iya nih, tapi bukan .com jadi web.id :D

14 Juni 2012 12.53

@Enny Ernawati Tengkiyuu ya :)

14 Juni 2012 12.53

@Cilembu thea Ciut bagaimana ya maksudnya? :D

14 Juni 2012 12.54

@Abi Sabila Lhah aku juga masih belajar kok. hehehe... tapi syukur deh kalo bisa ada yang diambil dari sini :)
Makasih ya :)

14 Juni 2012 13.09

@Bintang Dandelion - Widie Menggantung bagaimana? udah nggak ada terusannya lagi. Atau kamu mau nerusin? hehehe

14 Juni 2012 13.10

@cik awi Sebentar aja kok :)
MAkasih

14 Juni 2012 13.10

@Akhmad Muhaimin Azzet Makasih ya :)

14 Juni 2012 13.11

@Anonim Makasih ya :)

14 Juni 2012 13.11

@NF Alhamdulillah ada yang suka :)
Makasih ya Mbak :)

14 Juni 2012 13.12

@Didin Supriatna Okeee :)

14 Juni 2012 13.13

@Bung Penho Jangan gitu Bung Penhooo, aku masih belajar :)

14 Juni 2012 13.14

@Lidya - Mama Cal-Vin makasih ya, mam. sebenernya ukuran enaknya itu dilihat darimana sih? kalo aku kadang suka eneg baca tulisanku sendiri :D

14 Juni 2012 13.14

@Cartenz Pyramid Iya tulisannya keren, entah ceritanya huihihihi

14 Juni 2012 13.15

@Stupid monkey Dengan mudahnya kau percaya, Bang? :D

14 Juni 2012 13.15

@Faizal Indra kusuma Semoga, Zal :)

14 Juni 2012 13.17

@cerita anak kost Nggak, dia tuh sebenernya marah dan kaget. Gimana nggak kaget denger cewek yang disukai digosipin lesbi hehehe
Ceritanya jelek nih :D

14 Juni 2012 13.17

@srulz Siiip :)

14 Juni 2012 13.17

@Tiesa Thanks ya Tis

14 Juni 2012 13.17
14 Juni 2012 13.18

@eksak Nggak tahu juga aku, Eks :)
Thank :)

14 Juni 2012 13.19

@Si Belo APPPA, NAY?? Lula jalan sama kamu?? :D
Percaya aja deh :D

14 Juni 2012 13.19

@Hanan Muhardiansyah Hey, aku nggak mesti menang, yang lainnya jauh lebih bagus daripada punyaku, Mas. Tapi thanks ya :)

14 Juni 2012 13.20

@Sarnisa Anggriani Kadir Lula, Sayang :)
Makasih ya, Nis :)

14 Juni 2012 13.21

@covalimawati Atau kamu aja yang gampang tersentuh, hayoooo :D
Makasih ya :)

18 Februari 2013 11.37

ceritanya bagus mba...

Posting Komentar

 
Powered by Blogger