http://www.ministrywatch.com/App_Themes/Gifs/star.gif

Pages

Subscribe Twitter Facebook

Selasa, 14 Februari 2012

In Memoriam, Adikku ...

Malam ini, jam ini, menit ini serta detik ini, aku ingin menulis tentangmu, adikku. Apa kamu tahu, kamu sudah meninggalkan kita semua di sini selama...


Apa kamu tahu, kamu membuat kita merasakan kehilangan yang amat sangat? Apa kamu tahu, kamu sudah membuat air mata jatuh? Tapi aku tahu kamu tidak tahu karena kamu sendiri pun tidak tahu apa yang telah terjadi terhadap dirimu.Aku ingat jelas. Sangat jelas terekam di memoriku saat-saat menyedihkan dalam hidup. Menurutku, saat itu sangat menyedihkan. 9 Desember 2009. Akankah semua kembali, Dik?

Rekaman itu terlintas begitu saja di kepalaku. Bagai kilasan film hitam putih yang nampak kurang jelas dengan beribu-ribu titik-titik hitam di layar. Tapi jangan khawatir, adikku, wajahmu masih terlukis jelas di hati.

Malam itu aku pulang kerja. Santai menyusuri jalan menuju rumah. Seperti biasa aku bersenandung kecil sepanjang jalan. Menikmati indahnya kerlip lampu jalan di malam hari. Aku tak merasa aneh dan ganjil ketika tiba-tiba mataku menangkap kerumunan di pinggir jalan. Ada apa? pikirku. O... kecelakaan. Sekali lagi aku tekankan, aku tidak merasa aneh dan ganjil, tapi rasanya hanya ingin cepat-cepat sampai rumah.

Aku hanya melihat sekilas kerumunan itu, karena aku tahu hanya tinggal orang-orang dan mobil polisi yang mengangkut motor dan sepeda. Tapi entah apa yang terjadi, bayangan tentang motor itu dan kerumunan itu berkelebat di kepala. Tapi ah sudahlah, mungkin ini hanya semacam trauma yang aku alami, karena memang dulu aku sudah pernah mengalami sebuah kecelakaan yang hebat, pikirku saat itu.

Sampai di rumah, aku melihat keadaan gelap gulita. Tumben sekali. Tidak ada satupun lampu yang menyala. Semakin dekat aku membawa motorku dan... aku melihat kakakku duduk sendirian di teras rumah. Sendirian dengan kedua kaki terangkat ke atas sampai menyentuh dagu. Diam, tanpa bergerak sedikitpun. Matanya kosong dan aku bingung, ada apa sebenarnya.

Aku mendekat, masih berdiri dan bertanya.
“Ada apa, Mbak?” tanpa sadar suaraku bergetar hebat walaupun aku tidak tahu apa yang telah terjadi.
Kakakku mendongak dan aku melihat dagunya gemetar hebat menahan tangis. Aku tahu ada air mata turun membasahi pipinya dan tanpa ijin air mataku pun mengalir turun, perlahan.
“Tin... Tinung, kecelakaan!”
“Dimana?” aku terduduk memegang tangan kakakku.
Dan rasanya seperti dihantam benda besar ketika kakakku menyebutkan lokasi kecelakaan. Jantungku berdegup kencang, isakanku pecah, walaupun aku belum yakin bagaimana keadaan adikku. Aku melihat kecelakaan itu, dan aku tidak tahu korban itu adalah adikku sendiri. Bagaimana bisa? Aku lewat, harusnya aku berhenti. Ya Allah!
“Terus, dimana dia sekarang? Tinung nggak apa-apa kan?”
“Yuk, ke tempat simbah!” ajak kakakku tanpa menjawab pertanyaanku.

Aku masuk rumah sebentar, berganti pakaian dengan perasaan kacau. Aku belum tahu dan hanya bisa menebak-nebak saja.

Sampai di rumah simbah, aku melihat banyak sekali orang. Memasang tenda, menyiapkan gelas-gelas dan masih banyak lagi keributan yang lain. Suara isakan terdengar di setiap sudut. Teriakan-teriakan “Astaghfirullah”, “Ya Allah”, tertangkap gendang telingaku. Bibirku kering, dan menelan ludahpun rasanya seperti ada yang mengganjal di kerongkongan. Aku masih berdiri, mataku menatap keributan di depan mataku. Otakku belum bisa mencerna setiap gerakan-gerakan yang mereka lakukan. Dan tiba-tiba kenyataan itu menghantamku. TIDAK!! Hal terakhir yang aku sadari, aku hanya terduduk dengan mata kosong.

Entah berapa lama aku terduduk, tiba-tiba sebuah ambulans berhenti di depan rumah. Aku masih terduduk, tapi aku sadar adikku sudah datang. Adikku digotong banyak orang. Aku tidak melihat sosoknya, hanya kotak kayu panjang terbungkus kain putih lembut yang aku lihat dan aku masih terduduk. Isakan semakin jelas memekakkan telinga dan jantungku diremas-remas oleh nyeri. Keributan di depanku semakin cepat, aku mengusap air mata di pipiku dan mulai berjalan tertatih menghampiri adikku yang sedang tidur, tapi aku tidak bisa melihat wajahnya. Ternyata kamu menyerah di usia 18 tahun saja.

Selamat tinggal! 



Sedang apa, Dik, kamu di sana? Aku kangen.
Cukup, air mata ini sudah menitik dan aku hanya bisa menatap kursor yang berkedip-kedip... Sudah cukup.

22 comments

14 Februari 2012 12.32

innalillahi wa innailaihi raajiuun..
pasti rasa kehilangan dan rindu itu sangat besar ya. ga bisa membayangkan bila hal itu terjadi pada saya :(
semangat, kirimkan doa terus untuk adik tercinta :)

14 Februari 2012 13.56

Kenangan yang begitu menyentuh sob. Sedih emang di tinggal adik tersayang. tapi takdir berkata lain. Harus ikhlas sob.

14 Februari 2012 16.16

Kali ini berganti air mataku yang berlinang Wury...
Turut berduka ya. Semoga adikmu tenang disisi Tuhan.

14 Februari 2012 16.48

turut berduka.

dan kuharap kata 'menyerah' tak diturutkan dalam mengenangnya.

14 Februari 2012 18.21

inna lillahi wa inna ilaihi roji'un ...
turut berduka cita, sob ! ;(

15 Februari 2012 10.44

@Irma Devi Santika Besar sekali Irma rindu ini. Terima kasih, ya :)
Semangat

15 Februari 2012 10.46

@HP Yitno Udah ikhlas ini, ini hanya untuk mengenang saja, makasih ya :)

15 Februari 2012 10.47

@armae Cup cup, Mae. Jangan nangis dong, hehe, tetep semangat ki :)
Terima kasih

15 Februari 2012 10.48

@langkah fie Iya, ya, sepertinya istilah menyerah memang kurang tepat, terima kasih, Fie

15 Februari 2012 10.48

@eksak Terima kasih, eksak :)

16 Februari 2012 11.45

inna lillahi wa inna ilaihi roji'un
kdang kita sebagai manusia tidak pernah tahu berapa lama kita akan pulang,tapi aku yakin sebelum adik kamu pulang ke Tuhan dia sudah memberikan kenangan terbaik selama hidup buat orang2 terdekat'a

16 Februari 2012 16.52

innalillahi wa'innailaihi rajiuun, saya turut berduka.. semoga tinung mendapatkan kebahagiaan yang kekal dan tenang bersama orang2 yang shaleh disisi ALLAH SWT..

16 Februari 2012 22.12

Turut berduka cita mbak
Semoga adik mbak mendapat tempat terindah di sisi-Nya
amiiinnn

17 Februari 2012 10.44

@Andy Iya, terima kasih, kenangan dengannya banyak benget, indah maupun menyebalkan. Tapi sekarang hal yang menyebalkan itu menjadi kenangan terindah :)

17 Februari 2012 10.45

@HEЯRY Amin...

17 Februari 2012 10.45

@rizki_risAmin, trima kasih, ya

17 Februari 2012 12.26

Semoga mendapat tempat yg terindah di sisiNya... ​آمِّيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ

18 Februari 2012 18.36

Innalillaahi wa inna ilaihi raji'un.

Ikut sedih bacanya, Wury. :'(
Kita terus berdoa ya, buat adiknya. Wury juga, harus terus berjalan. Adik Wury pasti ingin Wury bahagia ke depannya. :)

21 Februari 2012 09.39

@UswahAmin. terimakasih, sobat :)

21 Februari 2012 09.40

@namarappuccino Pasti. Tetap semangat kok. Terima kasih, teman!

27 Februari 2012 14.37

Semoga adik mendapatkan tempat terbaik disisi-Nya...

27 Februari 2012 14.55

@Yunda Hamasah Amin, terima kasih, Mbak

Posting Komentar

 
Powered by Blogger